Bahasa Indonesia

  •  

    Misionaris sejati merintis jemaat—Benar atau Salah? Ini Adalah pertanyaan yang menimbulkan diskusi misiologis! Benar—berdasarkan banyak kelompok misi yang mengambil keputusan tentang siapa yang menerima dukungan finansial dari jemaat mereka. Salah—berdasarkan banyak individu dan organiasi yang terlibat dalam kegiatan yang luar biasa beragam yang termotivasi oleh kasih mereka pada Kristus dan kasih mereka pada mereka yang dicipta menurut gambar dan rupa-Nya. Jadi, bagaimana seorang guru misionaris yang memiliki 27 tahun pengalaman dalam misi yang terkenal sebagai penginjilan menjawab pertanyaan ini? Yaitu dengan pertanyaan lain! Apa yang ada di benak kita ketika kita mengatakan “merintis jemaat?”

  • TT.gifPengajar, guru, dan asisten pengajar adalah orang-orang barisan depan yang akan merubah masyarakat kita. Kuasa besar sedang dikerjakan di antara anak-anak dan para pemuda. Media dan pemasaran merebut perhatian mereka dan merebut tiap kesempatan untuk membentuk perasaan dan keputusan mereka. Orang tua, rekan, dan komunitas menggoncang mereka dari tiap arah. Dan di tengah-tengah itu semua, pendidik—yang berjuang untuk bertahan menghadapi ekspektasi atas peran mereka—diharapkan menolong murid-murid memahami perbedaan, merespon dan bersiap bagi ketidakpastian masa depan.

    Siapa yang pantas menjalankan tugas ini? Apakah ada jalan bagi orang-orang Kristen yang bekerja di kampus dan sekolah supaya selamat dari situasi seperti ini, apalagi berusaha dan membuat kontribusi positif? Apa bedanya menjadi orang Kristen?

    Menemukan Allah di kelas mungkin tidak terduga. Kita tidak dapat belajar dari keterangan atau contoh untuk menemukan Allah di kelas. Bahkan tampaknya terkadang kehadiran-Nya terlarang di kelas.

  • Third wave of modern Christian Schools (Indonesian translation)

    TT.gifDengan resiko terlalu menyederhanakan situasi yang kompleks, saya ingin mengatakan bahwa sekolah Kristen secara umum didirikan menurut salah satu dari dua model. Saya ingin mengajukan kemungkinan ketiga.

  • Saya sedang bersukacita karena salah satu murid kelas English 10 saya menulis, ‘Saya tidak memiliki hak untuk memilih saya harus menolong atau tidak; Pada hari di mana saya memilih mengikuti Allahku yang konsisten dan pengasih, saya membuang pilihan keapatisan.’

  • oleh Michael Essenburg dan Harold Klassen

"STEM education without morals, spiritual values breed intelligent criminals."

Kwabena Opuni-Frimpong

 

 

 

We use cookies

We use cookies on our website. Some of them are essential for the operation of the site, while others help us to improve this site and the user experience (tracking cookies). You can decide for yourself whether you want to allow cookies or not. Please note that if you reject them, you may not be able to use all the functionalities of the site.