Pengajar, guru, dan asisten pengajar adalah orang-orang barisan depan yang akan merubah masyarakat kita. Kuasa besar sedang dikerjakan di antara anak-anak dan para pemuda. Media dan pemasaran merebut perhatian mereka dan merebut tiap kesempatan untuk membentuk perasaan dan keputusan mereka. Orang tua, rekan, dan komunitas menggoncang mereka dari tiap arah. Dan di tengah-tengah itu semua, pendidik—yang berjuang untuk bertahan menghadapi ekspektasi atas peran mereka—diharapkan menolong murid-murid memahami perbedaan, merespon dan bersiap bagi ketidakpastian masa depan.

Siapa yang pantas menjalankan tugas ini? Apakah ada jalan bagi orang-orang Kristen yang bekerja di kampus dan sekolah supaya selamat dari situasi seperti ini, apalagi berusaha dan membuat kontribusi positif? Apa bedanya menjadi orang Kristen?

Menemukan Allah di kelas mungkin tidak terduga. Kita tidak dapat belajar dari keterangan atau contoh untuk menemukan Allah di kelas. Bahkan tampaknya terkadang kehadiran-Nya terlarang di kelas.

Ketika saya perlahan-lahan berubah dari seorang Kristen yang mengajar menjadi seorang guru Kristen, saya menemukan Alalh di kelas. Jalan saya seringkali keras, dengan sudut-sudut dan belokan yang tidak terlihat, tetapi saya yakin kehadiran-Nya di kelas adalah satu-satunya dasar bagi stabitilitas, harapan, dan arah.

Stabilitas

Saya menemukan stabilitas ketika saya tahu kita telah ditempatkan secara strategis oleh Tuhan pencipta untuk membuat perbedaan kekal di kelas kita. Pada saat-saat rohani paling penting dalam hidup mereka, Allah memberikan kita mandat untuk memberi lebih banyak masukan bagi lebih banyak murid untuk jangkat waktu yang lebih panjang tentang lebih banyak aspek dunia-Nya daripada orang Kristen manapun di luar rumah mereka—dan hanya sedikit yang memiliki anggota keluarga Kristen di rumah mereka. Kita tidak dapat memilih hari-hari baik saja atau bersama murid-murid yang pintar saja, tetapi kita sedang berada di posisi yang ideal untuk menunjukkan seperti apa seseorang yang di dalam Tuhan bekerja. Mereka dapat menghindari orang-orang Kristen di aktivitas gereja atau ekstra kurikuler, tetapi mereka harus berada di kelas kita. Mereka mungkin tidak setuju dengan kita, tetapi tidak ada dari mereka yang boleh sampai berkata, ‘Saya tidak pernah sekalipun bertemu seorang Kristen yang kompeten dan percaya diri.’ Mereka mungkin dipengaruhi oleh ‘guru-guru’ lain di luar kelas, tetapi kita mungkin adalah satu-satunya kesempatan mereka untuk melihat cara pandang dunia yang berpusat pada Kristus dan semua orang di dalam pandangan itu. Apakah ada tempat lain yang lebih strategis di mana Tuhan dapat tempatkan kita untuk membuat perbedaan yang kekal?

Harapan

Saya juga menemukan harapan karena tidak ada situasi di kelas kita yang dapat menghalangi Tuhan alam semesta untuk menggunakan kita di kelas, membuat perbedaan kekal. Jenis dan jumlah murid, sumber yang tersedia dan etos sekolah memang penting, tetapi tidak menentukan. Kita memiliki janji Yesus bahwa ‘barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya’ (Lukas 6:40). Sangat mudah untuk membuat daftar hal-hal yang tidak dapat kita lakukan, ‘tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin’ (Matius 19:26).

Ketika kita memasuki kelas, Tuhan alam semesta sedang masuk ke kelas pula di dalam kita. Dia suka menggunakan siapa yang lemah dan bodoh agar kekuatan dan hikmat-Nya menjadi nyata (1 Korintus 1:26-31, 2 Korintus 12:9-10). Karena Dia dapat membuat perbedaan, kita tidak perlu khawatir kita tidak dapat. Tentu saja, kita tidak menikmati menjadi lemah dan bodoh, tetapi Dia tetap dapat menggunakan kita untuk menciptakan harapan bahwa Dia cukup untuk situasi-situasi tidak masuk akal yang dihadapi murid-murid kita.

Jika satu-satunya hal yang menarik minat Allah adalah kegiatan yang terutama berhubungan dengan gereja local, maka Allah tidak akan ditemukan di kelas. Tetapi jika kita mengeksplorasi Firman Tuhan, karyan-Nya, tempat di mana dia aktif dan terus-menerus menunjukkan diri-Nya lewat apa yang telah Dia jadikan untuk tujuan-Nya (Roma 1:20, 11:36, Kolose 1:15-17), kita harus selalu mengharapkan menemukan Allah di kelas. Indoktrinasi memang dilarang, tetapi yesus sendiri melewatkan 30 tahun dalam dunia Bapa-Nya sebelum mulai mengenalkan Bapanya pada banyak orang. Jika kita memahami bahwa kita dapat membuat perbedaan kekal dengan mengajar, kesempatan tidak terbatas ada di kelas kita.

Arah

Arah datang dengan penemuan bahwa kita bisa sengaja terlibat dalam apa yang sedang dilakukan Tuhan semesta alam untuk menarik orang-orang makin dekat pada-Nya di kelas kita. Doa bagi setiap aspek kelas lebih dari sekedar latihan religius ketika kita yakin bahwa Allah adalah yang sedang melakukan karya tetapi Dia memanggil kita untuk bekerja bersamanya (2 Korintus 6:1). Belajar Alkitab bukanlah kegiatan renungan tapi adalah tempat logis untuk menumbuhkan ‘pikiran Kristus’ (1 Korintus 2:16), menemukan bahwa Dia telah memberitahukan tujuan-Nya untuk semua hal yang ktia pelajari termasuk proses belajar/mengajar.

3D teaching

Dalam dunia fisik, jika sesuatu memiliki dua dimensi, benda itu dapat terlihat tetapi tidak dapat dirasakan. Sesuatu yang bersifat tiga dimensi diperlukan. Saya percaya bahwa mengajar memiliki tiga dimensi, siapa, apa, dan di mana. Tidak penting berdebat dimensi mana yang paling penting, karena emua penting. Kita hanya dapat melihat siapa seseorang melalui apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka melakukannya. Ketika murid-murid kita melihat kita sebagai pendidik Kristen, mereka perlu mengalami kita sebagi seorang Kristen (siapa), yang mengajarkan kebenaran yang konsisten dengan kebenaran Tuhan (apa) dan melakukannya dengan cara Kristen (bagaimana).

Ketika saya berubah dari seorang Kristen yang mengajar menjadi seorang guru Kristen, saya menyadari bahwa saya tidak boleh mengabaikan salah satu dari tiga dimensi ini dalam peran saya. Ketika saya mulai memikirkan bagaimana pengajaran Kristen yang berbeda, saya segara menyadari pentingnya siap saya. Jika saya tidak diperbaharui dalam pikiran (Roma 12:2) supaya semua hal menjadi baru (2 Korintus 5:17), saya tidak dapat berharap pengajaran saya diubahkan. Tentu saja kita semua memiliki masalah yaitu tidak serupa Kristus dalamtiap area hidup kita. Masih ada bagian besar dalam hidup kita di mana karya pengubahan dari Allah belum selesai. Karena kita tidak serupa dengan Kristus di semua area, kita tidak perlu terkejut ketika sebagian dari yang kita lakukan dan cara kita melakukannya tidak serupa Kristus.

Ketika saya menghadapi masalah di sekolah negeri di Kanada, saya yakin bahwa sistem adalah penghalang yang paling besar. Saya ingin sekali pindah ke luar negeri sebagai guru misionaris di mana saya memiliki kebebasan penuh untuk membuat segala sesuatu se-Kristen mungkin. Saying sekali, ternyata terbang ke luar negeri tidak mengubah saya, maka saya tidak siap mengambil manfaat dari kesempatan yang saya miliki. Saya tidak pernah mengalami seorang guru Kristne di kelas dan pelatihan teologis saya ternyata tidak menyiapkan saya untuk menemukan Allah di kelas. Saya berada di lingkungan yang mendukung di mana pengajaran Kristen diharapkan, tetapi yang saya lakukan hanya sedikit berbeda dari apa yang telah saya lakukan—dan apa yang dilakukan guru-guru non-Kristen—dalam sistem sekolah negeri yang ‘terbatas.’ Apa yang saya lakukan dan bagaimana saya melakukannya tidak banyak berubah.

Sebagai orang Kristen, saya mengira bahwa keunggulan, etika dan penginjilan hanyalah satu-satunya tambahan nilai yang dapat saya berikan di kelas. Saya tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan bahwa apa yang saya ajarkan—kurikulum—dan bagaimana saya mengajarnya—pedagogi—juga dapat menjadi ekspresi siapa saya dalam Kristus. Dia tidak sekedar ingin ditemukan dalam relasi kasih dan keputusan moral, tetapi juga dalam isu-isu spesifik di kelas. Saya perlu lebih ‘ramah’ dan ‘jujur’ untuk menjadi seorang guru Kristen yang berbeda.

Bagaimana

Saya pertama kali menyadari bahwa prinsip-prinsip Kristen umum tidak cukup ketika saya melakukan refleksi tentang bagaimana saya seharusnya mengajar. Saya telah sedikit berpikir tentang metode mengajar Kristus, tetapi tidak benar-benar mempertimbangkan bahwa pilihan pedagogi secara sadar dan tidak sadar mungkin menunjukkan siapa saya. Apakah kecenderungan alami saya untuk melakukan apa yang menurut saya paling nyaman menunjukkan bahwa saya belum banyak belajar tentang kepeduliaan terhadap orang lain ataukah itu sebuah latihan dari talenta pemberian Allah? Apakah saya benar-benar menghargai keunikan tiap murid? Apakah kecenderungan saya menggunakan kata-kata dan bukan gambar adalah refleksi dari kepedulian Allah terhadap bahasa mulai dari di Taman Eden, kepada Firman yang menjadi manusia, kepada Alkitab, ataukah itu adalah kesukaan pribadi saya karena saya tumbuh di zaman sebelum Internet? Apakah praktek manajemen kelas saya menunjukkan pemahaman alkitabiah tentang dosa tiap orang di kelas, termasuk saya sendiri? Apakah bekerja di kelompok kecil membuat sayatidak nyaman karena harga diri saya tidak mengijinkan saya tergantung pada orang lain? Bagaimana saya mengajar jelas memiliki kemampuan untuk menunjukkan siapa saya dalam Kristus.

Apa

Area yang paling tidak berkembang dalam pemikiran saya adalah pertimbangan tentang apa yang saya ajarkan. Saya terbiasa menerima apa yang saya ajarkan dalam panduan kurikulum negara, ujian eksternal, peraturan administratif dan ekspektasi universitas. Saya tidak dapat melakukan apapun mengenai hal-hal tersebut jadi saya berasumsi bahwa saya tidak dapat berbuat apa-apa mengenai apa yang saja ajarkan. Sebenarnya saya berpikir apakah ada yang perlu diubah. Satu-satunya jalan saya dapat menghubungkan Allah dengan kimia dan fisika adalah dengan menaburkan ayat-ayat Alkitab dalam rencana mengajar. Sebenarnya, saya memiliki beberapa buku teks yang ditulis orang Kristen yang juga melakukan hal serupa. Sayang sekali, ayat-ayat ekstra ini tidak terasa nyaman sama sekali bagi saya ataupun murid-murid. Proses ini terlalu dibuat-dibuat dan tidak berarti, dan sangat tidak berguna dalam sistem negara pluralistik di mana Firman Allah dilarang. Saya bereksprimen dengan berbagai cara untuk menambahkan sesuatu yang Kristiani dalam pengajaran saya tetapi hasilnya tidak pernah memuasakan.

Setelah lebih dari 20 tahun, Allah mulai menolong saya melihat bahwa saya perlu mencocokkan apa yang saya ajarkan dengan apa yang Dia sedang lakukan, bukannya berusaha menambahkan Dia ke rencana kurikulum seseorang. Jika Dia tidak sentral terhadap apa yang saya pikirkan tentang apa yang saya ajarkan, saya tidak dapat menyalahkan sistem apapun. Saya dapat melakukan sesuatu tentang pemikiran saya dan berjalan ke kelas dengan penuh percaya, lalu apa yang memenuhi pikiran saya akan ‘mengalir ke luar’ di kelas bahkan ketika saya tidak diperbolehkan menyampaikan ‘rahasia’ saya kepada siapapun.

Allah terlibat dalam apapun yang saya ajarkan karena Dia menciptakannya (masa lalu) dan memeliharanya (masa kini) bagi tujuan-tujuan-Nya (masa depan). Jika saya tidak melihat-Nya, atau tidak mengetahui tujuan-Nya dalam mata pelajaran saya, saya perlu mulai mencari. Dia berkata kita akan menemukan-Nya jika kita mencari Dia (Yeremia 29:13, Kisah Para Rasul 17:27) tetapi saya begitu mirip dengan guru-guru tidak ber-Tuhan sehingga saya jarang mencari Dia dalam apa yang saya ajarkan. Jika Kristus tidak relevan berfungsi dalam apa yang saya ajar, itu adalah kesalahan saya, bukan kesalahan orang lain. Pikiran saya perlu diperbaharui; saya perlu diubahkan sebelum saya siap menjadi agen transformasi dalam hidup orang lain.

Tujuan sesungguhnya

Saya menyadari bahwa saya perlu menangkap ‘gambaran besar’ dari apa yang sedang dilakukan Allah jika saya ingin merelasikannya dengan apa yang saya ajrkan. Tetapi tujuan saya yang sesungguhnya adalah menolong anak-anak dan orang muda merelasikan seluruh kehidupan dan pembelajaran kepada Allah dan Firman-Nya bagi diri mereka. Saya ingin mereka memiliki kerangka berpikir Kristen yang dapat berkembang ketika mereka tumbuh seperti Yesus ‘dalam hikmat’ (Lukas 2:52).

Jika mereka memahami bahwa Allah membuat segala sesuatu untuk menunjukkan diri-Nya, mereka dapat mencari Dia sendiri—di dalam dan di luar kelas. Karena mereka memiliki pikiran yang lebih sederhana dari saya, mereka mungkin akan melihat Dia sebelum saya jika saya mengajar mereka untuk bertanya ‘Di mana Allah dalam gambar ini?’ Jika mereka menaydari bahwa dosa telah mempengaruhi segala hal, mereka dapat menjadi para pembelajar yang dapat membedakan dan tidak begitu saja menerima ‘rasa saat ini’ yang ditawarkan pasar ide. Tindakan Allah yang menebus ditunjukkan dalam Kristus, Firman yang Hidup, dan Alkitab, Firman yang tertulis, agar mereka dapat belajar dari Kristus dan alkitab untuk membedakan refleksi dan distorsi Allah dalam apa yang sedang mereka pelajari. Daripada menghafalkan fakta-fakta tidak lengkap tentang hal-hal yang tidak lengkap, mereka dapat belajar mencari tujuan Allah bagi segala hal dan dengan bertanggung jawab memilih menggunakan apa yang mereka pelajari bagi kemuliaan-Nya.

Jika saya memelihara pemikiran saya tentang hal-hal yang paling saya tahu, saya dapat meningkatkan evaluasi seksama terhadap jawaban yang diberikan ‘guru-guru’ yang lain tentang pertanyaan tujuan, yang benar, yang baik dan yang indah, pilihan dan konsekuensi. Bahkan jika mereka menolak jawaban universal, saya dapat mendorong mereka dengan contoh agar mereka menjadi pembelajar yang lebih berhikmat dan lebih waspada terhadap orang-orang yang diterima sebagai ‘guru.’ Jika saya siap memberikan jawaban ketika mereka bertanya, ‘Mengapa kita harus belajar hal ini?’ saya dapat meraih momen ini untuk menjawab melampaui ekonomi dan akademi. Ketika mereka bertanya, ‘Kalau menurut Bapak bagaimana?’ saya dapat menunjukkan sedikit dari apa yang saya pikirkan. Lalu Roh Kudus dapat menggunakannya untuk menciptakan gambaran Kristus tiga dimensi yang akan menarik mereka hidup hidup berelasi dengan Dia.

Hanya ketika saya telah menemukan Allah di kelas saya dapat yakin saya sedang menunjukkan arah yang benar pada murid-murid saya dengan apa dan bagaimana saya mengajar. Dan mungkin Allah akan memberikan sukacita untuk melihat beberapa dari mereka menemukan Dia di kelas juga.

Download a PDF of the English version

You have no rights to post comments